Rabu, 12 Desember 2018

ORANG YANG BAIK DAN SEHAT MENTAL DARI PERSPEKTIF SUKU JAWA

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya yang beragam. Tiap daerah pastinya memiliki kebiasaan dan tradisi yang berbeda, seperti kebiasaan orang sunda, kebiasaan orang betawi ataupun Maluku. Dalam tugas ini saya akan menjelaskan mengenai bagaimana perilaku yang menggambarkan orang tersebut sehat dan baik secara mental dalam perspektif suku Jawa. Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Pribadi yang normal atau bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi inter- personal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjuk- kan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia.

Suku jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara konten isi dan bahasa perkataan maupun objek yang diajak berbicara. Orang yang baik dalam perspektif Suku Jawa adalah orang yang mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Orang dengan suku Jawa harus mampu bertahan hidup dimana saja dan bekerja apa saja. Orang Jawa akan dianggap mampu bersosialiasi ketika mereka mampu menjalankan salah satu kebiasaan kental mereka yaitu gotong royong, seperti contoh membantu tetangga yang akan mengadakan hajatan, orang Jawa harus menolong tetangga tersebut, dan apabila Tuan Rumah menggunakan jasa layanan berbayar dalam melaksanakan hajatannya seperti pemesanan makanan dengan chatering justru akan dianggap kurang sosialisasi dan tidak mencerminkan karakter baik orang Jawa. 

Orang yang baik dan sehat secara mental dalam perspektif Suku Jawa adalah ketika orang tersbut mampu menerapkan tutur katanya yang lemah lembut ketika berbicara yang dikarakteristikkan sebagai rasa sopan santun, sopan santun merupakan wujud tata krama yang tidak tertulis dalam budaya Jawa dan dapat dikatakan bagi masyarakat Jawa sikap tersebut adalah bagian dari kehalusan budi pekerti seseorang yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memberikan kesan yang mendalam bagi umat manusia. Dalam hal tersebut, masyarakat Jawa memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika, baik dari sikap maupun berbicara. Apabila sikap ini mampu diimplementasikan karena merupakan salah satu norma tidak tertulis, akan dianggap baik dan sehat mental. Sebagai contoh untuk masalah sikap, ketika sedang bertamu dan disuguhkan makanan, sebelum dipersilakan untuk mencicipi, sungkan bagi orang Jawa untuk memakan atas apa yang telah dihidangkan, meski dalam keadaan lapar sekalipun. Menurut orang Jawa, melanggar sikap itu seperti melakukan ketidaksopanan dan melanggar norma, padahal itu hanya perasaan saja, tapi hal itulah yang tertanam didalam nilai etika orang Jawa yang dianggap salah satu standart sopan santun. 

Dan sebagai contoh dalam etika sopan santun lainnya, masyarakat Jawa selalu menjaga segala kata dan perbuatannya, “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana,” agar tidak menyakiti hati orang lain. Dalam interaksi antarpersonal di lingkungan sosial, masyarakat Jawa harus berpedoman pada istilah ngajeni. Yang di mana percakapan antara yang lebih muda, sebaya, dan yang lebih tua harus dibedakan dalam berbahasa. Dan perbedaan bahasa yang berstrata itulah yang boleh dikatakan sebagai salah satu ciri khas dari masyarakat Jawa. Semakin orang yang selaku generasi muda meresapi esensi dari kata sopan santun, ngajeni, semakin mudah bagi untuk meredamkan sifat-sifat tercela, seperti yang tertulis dalam Serat Wedhatama (VIII), “Socaning jiwangganira Jer katara lamun pocapan pasthi Lumuh asor kudu unggul Sumengah sosorangan Yen mangkono kena ingaran katunggul Karem ing reh kaprawiran Nora enak iku kaki” Artinya: “Cacat jiwa raganya memang terlihat sekali saat bertutur kata, sedikit pun tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri. Senang membanggakan diri dan angkuh, hingga hilang kewaspadaan. Dia senang sekali terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan keberanian, tanpa mempertimbangkan perbuatannya secara seksama. 

Orang Jawa dianggap baik secara fisik dan mental ketika mereka tidak banyak mengeluh dan mampu menyelesaikan permasalahannya secara mandiri tanpa merepotkan orang lain, hal inilah yang kemudian orang lain menyebutkan bahwa Orang Jawa “Pandai Menyembunyikan Perasaan.” Mungkin pada umumnya, masyarakat Jawa memang memiliki karakter semacam ini sehingga lebih cenderung tertutup dan sulit untuk berterus terang. Orang Jawa juga akan lebih memilih untuk mengalah dalam situasi perdebatan, hal itu dianggap baik agar tidak terjadi pertengkaran dan menimbulkan permusuhan. Selalu tersenyum ketika bertemu orang lain harus dilakukan, bahkan harus menyapa pula agar tali silahturahmi tetap terjaga. Orang Jawan memiliki prinsip dilarang melakukan perbuatan yang melanggar unggah-ungguh atau nilai kesopanan’ mereka akan menyebutnya ‘Ora ilok’ atau artinya tidak baik.

8 komentar:

  1. Tulisannya dapat menambah ilmu saya yang belum saya ketahui sebelumnya. Btw, tulisan blognya warna kuning ini sangat mengganggu mata saya saat membacanya tadi. Tetap semangat, Makasih semoga postingan selanjutnya lebih bermanfaat yaa...

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat bagi saya, ditambah lagi sangat banyak animasinya ☺️

    BalasHapus
  3. blog kamu sangat menarik ridwan. silahkan lanjutkan

    BalasHapus
  4. Wah, terimakasih infonya πŸ˜€

    BalasHapus
  5. Kereeen. Btw, animasinya banyak, jadi buat blog nya beratπŸ˜…

    BalasHapus