• Fakultas Psikologi USU

    Program Studi (PS) Psikologi USU didirikan pada tahun 1999 dan mulai menerima mahasiswa angkatan pertamanya untuk mengikuti program pendidikan Sarjana Strata 1 pada tahun ajar 1999/2000

  • P3M USU

    Pusat Pelayanan Psikologi pada Masyarakat (P3M) memberikan pelayanan jasa psikologis kepada masyarakat dalam rangka melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi

  • Pemerintahan Mahasiswa

    Salah satu program PEMA yaitu Batik-Batik di Taman Fakultas Psikologi USU

Minggu, 23 Desember 2018

Sekilas Mengenai Schizophrenia


Perkembangan Manusia

Tahap-tahap Konseling

No
Tahap
Aspek
Keterangan
1
Pengumpulan Informasi
Pertanyaan
Dengan mempersiapkan pertanyaan tentunya dapat membantu konselor dalam mengambil data, dalam sesi ini sedapat mungkin dikerjakan dalam waktu yang relative singkat. Apapun itu konselor harus dapat mengetahui permasalahan klien.


Interaksi dan Reaksi
Interaksi  diartikan sebagai upaya menyelidiki calon klien dengan cara yang lembut, bersifat sementara.

Reaksi dalam kaitan ini diartikan sebagai tampilnya konselor dengan penyesuaian yang sempurna dengan reaksinya terhadap calon klien
2
Evaluasi
Gejala-gejala
Perlu memahami apakah klien tersebut memang benar-benar dikategorikan sebagai orang yang diindikasikan memiliki gangguan sesuai dengan DSM


Penyebab Gejala
Penyebab munculnya gejala persoalan psikologis yang memerlukan layanan konseling disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan dasar psikologis itu sendiri. Adapun kebutuhan dasar psikologis dimaksud adalah kebutuhan akan rasa aman, cinta, penghargaan, keterpenuhan, stimulasi, kebebasan, kesenangan, dan tujuan (cita-cita).


Meringankan Gejala
Untuk dapat menghilangkan gejala psikologis yang timbul pada diri seseorang tergantung dari jenis gejala yang muncul. Jika yang terjadi adalah kerusakan suasana psikologis akibat kejadian tertentu, maka dilakukan dengan merestruktur cara berfikirnya, memberikan kesempatan untuk mengungkapkan segala harapannya dan menentramkan perasaan secara bertahap, memberikan kasih sayang. Jika gejala yang terjadi adalah tertolaknya keinginan dari hubungan yang diharapkan dari orang lain, bisa dilakukan dengan cara mengubah persepsi yang mampu meng-handle situasi itu atau menarik orang tersebut dari situasi itu.


Persiapan untuk Konseling
Singkat kata, bahwa konseling bisa berjalan dengan sempurna jika masing-masing sudah mempunyai kesiapan untuk menjalin hubungan ini. Itulah sebabnya, kondisi kesiapan ini harus dipersiapkan secermat mungkin agar proses konseling yang dilakukan bisa berjalan efektif.


Person/Counselor Fit
Kecocokan diperlukan antara klien dan konselor, agar konseling dapat berjalan dengan harapan yang baik.
3
Umpan Balik
Karakteristik Informasi
Informasi yang diberikan haruslah jelas, ringkas, konkrit, dan hati-hati.


Kekuatan dan Kelemahan
Umpan balik mungkin mencakup kekuatan dan kelemahan. Biasanya lebih baik diawali dengan kekuatan dan diakhiri dengan kelemahan. Jika langkahnya dibalik, orang mungkin jadi defensif atau akan kehilangan semangat yang berakibat dia tidak akan mendfengarkan hal-hal penting dari pembahasan masalah.


Inviting Questing
Konseli dapat diajak untuk bertanya selama atau setelah umpan balik. Pertanyaan-pertanyaan dapat dijawab secara langsung dengan sportif. Kadang-kadang orang bertanya dengan pertanyaan yang dapat mencegah proses umpan balik. Untuk kasus seperti ini, konseli tersebut diminta untuk menunda pertanyaannya sampai akhir pembicaraan.


Rekomendasi
Setelah menyampaikan feedback, konselor memberikan rekomendasi kepada konseli, namun harus dijelaskan bahwa rekomendasi tidak harus dijalankan, namun sebaiknya diikuti
4
Persetujuan Konseling
Aspek Praktikal
Aspek ini meliputi berapa kali pertemuan dilakukan dengan konselor, lamanya sesi pertemuan, kebijakan penundaan dan pembatalan perjanjian serta prosedur pengaturannya. Jika tidak ada yang perlu diubah berdasarkan informasi yang diperoleh dari tiga tahap awal pertama, maka ada baiknya memfokuskannya pada kepentingannya.


Peran
Aspek kedua dari bagian persetujuan adalah kesepakatan terhadap peran yang dibuat selama proses konseling dijalankan. Peran dibuat disesuaikan pada keadaan konselor, orang yang dikonseling dan situasi saat dilakukan konseling.


Ekspektasi
Orang yang konseling dapat juga berbagi harapannya pada konselor. Orang tersebut dapat mengatakan pada konselor apa yang yang berguna dan apa yang tidak berguna. Biasanya pada tahap awal konseling, orang tidak dalam posisi untuk menyatakan dengan jelas bagaimana konselor dapat membantu.


Tujuan
Pertama, tujuannya harus spesifik dan dapat diukur.

Kedua, tujuannya realistis.

Ketiga, tujuan konseling adalah kesehatan psikologis.

Keempat, tujuan biasanya bersifat hirarkis (bertahap/bertingkat).

Kelima, konseling harus memiliki tujuan yang bergantung kepada orang yang dikonseling.

Keenam, tujuan harus selalu dievaluasi.
5
Perubahan Perilaku
Berfokus pada tanggungjawabnya
Peran konselor bukanlah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, namun justru menyediakan lingkungan dan hubungan yang kondusif untuk membantu pertumbuhan pemahaman diri konseli dan keberanian untuk mengubah setiap jawaban pertanyaan tersebut ke dalam bentuk praktis.


Memanfaatkan Wawasan
Ada dua sudut pandang tentang wawasan yang diperoleh dari pencarian di atas. Salah satunya adalah bahwa wawasan itu sendiri dapat menghasilkan keseimbangan psikologis yang diperlukan untuk mengurangi gejala dan menciptakan pertumbuhan.


Mirroring
Konselor bertindak sebagai cermin dimana konseli dapat melihat diri mereka sendiri.

Intrapsikis berarti konselor merefleksikan kembali diri konseli sehingga konseli dapat membuat perubahan tingkah laku yang tepat.

interpersonal menunjukkan peran konselor untuk merefleksikan dan menunjukkan kepada konseli, bagaimana reaksi orang lain apabila konseli berperilaku tertentu.


Confronting
Seorang konselor mungkin akan melihat adanya kesenjangan dalam perilaku atau gaya hidup konseli. Pengkonfrontasian bersifat lebih asertif dan berfokus pada motivasi-motivasi konseli yang lebih dalam dan perilaku-perilaku yang bertolakbelakang. Pengkonfrontasian sebaiknya dilakukan saat konseli telah memiliki pemahaman akan dirinya.


Memberikan Dukungan
Konselor memiliki peran untuk meyakinkan, memberikan dorongan positif serta menunjukkan aspek-aspek positif dari suatu situasi yang menimbulkan kecemasan.


Reverse Shaping
Konselor yang berperilaku dengan cara yang menyenangkan konseli, akan dihargai dengan cara konseli tersebut menunjukkan bukti akan adanya pertumbuhan diri. Sementara itu jika seorang konselor tidak disukai konseli, maka konseli dapat menolak bahkan menyerang konselor. Menghadapi situasi demikian sebaiknya konselor tetap berfokus pada tujuan konseling serta mengabaikan tekanan dari konseli.


Transference
Pemindahan menunjukkan bagaimana konseli bereaksi terhadap konselor. Pemindahan sering dipengaruhi oleh hubungan-hubungan yang pernah terjadi antara konseli dengan orang lain di masa lalu. Cara konselor memandang, berbicara, duduk, berpikir menunjukkan emosi, dan nilai-nilai konselor yang dapat memicu terjadinya reaksi pemindahan yang bersifat positif maupun negative.


Countertransferences
Countertransference berbentuk reaksi-reaksi yang tidak tepat oleh konselor terhadap perilaku konseli. Sama dengan transference, countertransference dapat bersifat positif maupun negative.


Interpretasi
Tujuan dari interpretasi adalah meningkatkan pengetahuan diri. Interpretasi merupakan proses menyingkap informasi yang bahkan tidak diketahui oleh konseli itu sendiri, dimana informasi-informasi tersebut terletak pada alam tak sadar, dari konseli.
6
Pemberhentian
-
Tahap terminasi ini dilakukan apabila konseli telah dapat secara bertanggungjawab menyelesaikan permasalahannya atau dapat tumbuh sebagai seseorang dengan kepribadian yang lebih baik. Terminasi tidak berarti proses konseling sudah selesai. Proses terminasi dapat dilalui dengan mulai mengurangi jadwal sesi konseling, secara beransur-ansur sampai konseli betul-betul menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.

Rabu, 12 Desember 2018

ORANG YANG BAIK DAN SEHAT MENTAL DARI PERSPEKTIF SUKU JAWA

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya yang beragam. Tiap daerah pastinya memiliki kebiasaan dan tradisi yang berbeda, seperti kebiasaan orang sunda, kebiasaan orang betawi ataupun Maluku. Dalam tugas ini saya akan menjelaskan mengenai bagaimana perilaku yang menggambarkan orang tersebut sehat dan baik secara mental dalam perspektif suku Jawa. Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Pribadi yang normal atau bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi inter- personal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjuk- kan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia.

Suku jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara konten isi dan bahasa perkataan maupun objek yang diajak berbicara. Orang yang baik dalam perspektif Suku Jawa adalah orang yang mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Orang dengan suku Jawa harus mampu bertahan hidup dimana saja dan bekerja apa saja. Orang Jawa akan dianggap mampu bersosialiasi ketika mereka mampu menjalankan salah satu kebiasaan kental mereka yaitu gotong royong, seperti contoh membantu tetangga yang akan mengadakan hajatan, orang Jawa harus menolong tetangga tersebut, dan apabila Tuan Rumah menggunakan jasa layanan berbayar dalam melaksanakan hajatannya seperti pemesanan makanan dengan chatering justru akan dianggap kurang sosialisasi dan tidak mencerminkan karakter baik orang Jawa. 

Orang yang baik dan sehat secara mental dalam perspektif Suku Jawa adalah ketika orang tersbut mampu menerapkan tutur katanya yang lemah lembut ketika berbicara yang dikarakteristikkan sebagai rasa sopan santun, sopan santun merupakan wujud tata krama yang tidak tertulis dalam budaya Jawa dan dapat dikatakan bagi masyarakat Jawa sikap tersebut adalah bagian dari kehalusan budi pekerti seseorang yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memberikan kesan yang mendalam bagi umat manusia. Dalam hal tersebut, masyarakat Jawa memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika, baik dari sikap maupun berbicara. Apabila sikap ini mampu diimplementasikan karena merupakan salah satu norma tidak tertulis, akan dianggap baik dan sehat mental. Sebagai contoh untuk masalah sikap, ketika sedang bertamu dan disuguhkan makanan, sebelum dipersilakan untuk mencicipi, sungkan bagi orang Jawa untuk memakan atas apa yang telah dihidangkan, meski dalam keadaan lapar sekalipun. Menurut orang Jawa, melanggar sikap itu seperti melakukan ketidaksopanan dan melanggar norma, padahal itu hanya perasaan saja, tapi hal itulah yang tertanam didalam nilai etika orang Jawa yang dianggap salah satu standart sopan santun. 

Dan sebagai contoh dalam etika sopan santun lainnya, masyarakat Jawa selalu menjaga segala kata dan perbuatannya, “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana,” agar tidak menyakiti hati orang lain. Dalam interaksi antarpersonal di lingkungan sosial, masyarakat Jawa harus berpedoman pada istilah ngajeni. Yang di mana percakapan antara yang lebih muda, sebaya, dan yang lebih tua harus dibedakan dalam berbahasa. Dan perbedaan bahasa yang berstrata itulah yang boleh dikatakan sebagai salah satu ciri khas dari masyarakat Jawa. Semakin orang yang selaku generasi muda meresapi esensi dari kata sopan santun, ngajeni, semakin mudah bagi untuk meredamkan sifat-sifat tercela, seperti yang tertulis dalam Serat Wedhatama (VIII), “Socaning jiwangganira Jer katara lamun pocapan pasthi Lumuh asor kudu unggul Sumengah sosorangan Yen mangkono kena ingaran katunggul Karem ing reh kaprawiran Nora enak iku kaki” Artinya: “Cacat jiwa raganya memang terlihat sekali saat bertutur kata, sedikit pun tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri. Senang membanggakan diri dan angkuh, hingga hilang kewaspadaan. Dia senang sekali terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan keberanian, tanpa mempertimbangkan perbuatannya secara seksama. 

Orang Jawa dianggap baik secara fisik dan mental ketika mereka tidak banyak mengeluh dan mampu menyelesaikan permasalahannya secara mandiri tanpa merepotkan orang lain, hal inilah yang kemudian orang lain menyebutkan bahwa Orang Jawa “Pandai Menyembunyikan Perasaan.” Mungkin pada umumnya, masyarakat Jawa memang memiliki karakter semacam ini sehingga lebih cenderung tertutup dan sulit untuk berterus terang. Orang Jawa juga akan lebih memilih untuk mengalah dalam situasi perdebatan, hal itu dianggap baik agar tidak terjadi pertengkaran dan menimbulkan permusuhan. Selalu tersenyum ketika bertemu orang lain harus dilakukan, bahkan harus menyapa pula agar tali silahturahmi tetap terjaga. Orang Jawan memiliki prinsip dilarang melakukan perbuatan yang melanggar unggah-ungguh atau nilai kesopanan’ mereka akan menyebutnya ‘Ora ilok’ atau artinya tidak baik.